Diperiksa 8 Jam Dugaan Korupsi, Mantan Kadis PU Jeneponto Diperiksa Penyidik Tipikor

  • Whatsapp

Laporan Jurnalis Jeneponto – Misbah Fadly Kr 

Jeneponto – Kompas24jam.id – Mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Jeneponto, Abdul Malik diperiksa tim Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polres Jeneponto sebagai saksi dalam proyek pembangunan Jembatan Bosalia tahun anggaran 2016 dengan total anggaran sebesar lebih dari Rp4 Milyar, Senin, 01, Juli, 2019.

Bacaan Lainnya

Pemeriksaan yang dilakukan di ruang unit Tipikor berlangsung dari pukul 09.00 hingga pukul 17.00 Wita atau lebih kurang 8 jam.

Abdul Malik yang datang seorang diri dengan memakai kemeja berwarna hitam dicecar 56 pertanyaan dari penyidik sebagai saksi.

“Itu di dalam (Ruang penyidik Tipikor, red) sementara masih kita mintai keterangan,” ujar Kasatreskrim Polres Jeneponto, AKP Bobby Rachman sambil menunjuk ruang Tipikor.

Boby mengatakan, jika pemanggilan terhadap mantan kadis PU Kabupaten Jeneponto itu, sebagai saksi dalam kapasitasnya sebagai pengguna anggaran.

Diperiksanya Mantan Kadis PU itu, lanjut Boby, jumlah saksi yang telah dimintai keterangan mengenai kasus dugaan tindak pidana korupsi proyek pembangunan jembatan Bosalia, sudah berjumlah 16 orang.

“Sampai saat ini saksi saksi yang diperiksa terkait kasus dugaan korupsi pada proyek pembangunan jembatan Bosalia sudah 16 orang, kalau mantan Kadis PU kita panggil untuk dimintai pertanggung jawaban dan keterangan dalam kapasitasnya sebagai PA (Pengguna Anggaran, red) yang saat itu menjabat sebagai Kadis PU, ” terang Kasatreskrim Polres Jeneponto, kepada Kompas24jam.id

Sekedar diketahui, rekanan jembatan tersebut dikerjakan oleh PT. Trikarya Utama Cendana dengan total anggaran lebih dari Rp4 Milyar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun anggaran 2016.

Namun pembangunan jembatan yang menghubungkan antara Kelurahan Sidenre dengan Kelurahan Monro Monro, di Kecamatan Binamu, tak diselesaikan pihak rekanan sehingga kuat dugaan terjadi tindak pidana korupsi yang menimbulkan kerugian negara sebesar Rp600 juta.

“Nanti dilihat perkembangannya kami akan gelarkan kembali setelah semua rampung pemeriksaan saksi,” kata Boby.

Pos terkait