Kisah Korban Selamat Banjir Bandang, Setelah Terjebak Selama Enam Jam

  • Whatsapp
Juhari Daeng Caya, Korban Selamat Banjir Bandang.

KOMPAS24JAM.ID, JENEPONTO —Nasib Juhari Daeng Caya (55) masih mujur. Enam jam terjebak banjir, baru diselamatkan.

Suara lantang pun dia keluarkan, Lailahaillallah,Lailahaillallah Muhammadarrasulullah,Allahuakbar,Allahuakbar ia terus ucapkan. Suaranya serak, dan tak bisa berbicara karna suaranya habis. Airpun dia minum, ia aku minum. Suaranya kembali menggema, teriak tolong Lailahaillallah Wallahu Akbar.

Bacaan Lainnya

Tangan kirinya melambai. Sedangkan tangan kanan, berpegang dengan di sebuah tanggga milik tetangganya. Hanya itu yang bisa dilakukannya. Suaminya, Sufu Daeng Jallang (73) sudah hanyut. Juhari tak melihatnya lagi.

Rumah-rumah disekitarnya sudah porak poranda, hanyut. Bahkan, tak satu pun orang ia lihat.

“Dalam hati saya sudah pasrah, karena berjam-jam belum ada yang menolong,” kata Juhari, menceritakan kepada Kompas24jam.com saat ditemui di rumahnya yang terdampak banjir bandang parah, di dusun Sampeang, Desa Kayu Loe Barat, Kecamatan Turatea, Rabu, 30 Januari.

Bercerita, Juhari tak bisa menahan air matanya. Kejadian ini ia akui tak pernah ia bayangkan, seperti mimpi dan tak ia fikirkan.

Tak ada tanda-tanda. Tak ada suara gemuruh. Ia pun tak mendengar suara teriakan, karena derasnya hujan.

Air sungai samping rumahnya pun terlihat normal. Tapi air sudah di kolong rumah.
Sumbernya dari belakang rumah. Luapan ait sungai mengarungi sawah dan kebun.

Juhari yang baru saja shalat duhur saat itu mengaku baru tahu saat suaminya berteriak. Ia pun kaget dan panik, sebab air sangat cepat tinggi.

Keduanya mengambil baskom untuk pergi menyelamatkan diri. Tapi belum sampai turun, rumahnya sudah roboh.

Juhari dan suaminya pun jatuh dan hanyut. Beruntung, Juhari berhasil meraih sebuah tangga batu yang tidak jauh dari rumahnya.

Sedangkan suaminya hanyut. Tapi juga selamat karena tersangkut di sebuah rumah yang porak-poranda karna banjir.

Sementara Juhari sendiri, selamat lewat berpegangan di tangga itu. Hingga akhirnya diselamatkan menjelang magrib setelah terjebak sejak duhur sehabis iyya sholat duhur.

“Setengah satu kira-kira. Jadi mungkin enam jam saya disitu saya saat itu sudah lemas karena kedinginan. Hingga saya tak tahu lagi siapa yang akan menolong saya,”ungkapnya.

Hingga saat ini Juhari dan suaminya masih dalam pengungsian. Ia berharap bisa mendapatkan bantuan untuk kembali membangun rumahnya yang sudah rata tanah.

Di kampung Juhari tersebut, memang salah satu titik terparah banjir bandang di Jeneponto. Lokasi yang berbatasan dengan kampung Sapanang ini juga meratakan puluhan rumah warga.

Laporan Jurnalis Kompas24jam, Haris
Editor : Karsar

Pos terkait