JENEPONTO-KOMPAS24JAM.ID, Menjawab kegelisahan atas belum optimalnya realisasi Tri Dharma Perguruan Tinggi di kalangan mahasiswa, Pengurus Besar Himpunan Pelajar Mahasiswa Turatea (PB‑HPMT) Periode 2026‑2028 menginisiasi gerakan bertajuk Lontara Project HPMT. Mengusung tema “Implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah”, program ini hadir sebagai upaya menjawab hambatan pemanfaatan potensi besar yang ada di Kabupaten Jeneponto.
Muh.Palangkey Yusrie, Project Manager Lontara Project, menyusun kerangka kerja ini agar kegiatan kemahasiswaan tidak lagi sekadar mengejar eksistensi lembaga, melainkan menempatkan mahasiswa sebagai katalisator pembangunan ekonomi, sosial, dan budaya daerah.
Rangkaian utama kegiatan Research and Public Education Project akan dilaksanakan pada 28 Oktober hingga 1 November 2026, dengan pembagian tim relawan ke dua lokasi yang mewakili lanskap geografis Jeneponto: Desa Marayoka sebagai wilayah pegunungan atau hulu, dan Desa Mallasoro sebagai wilayah pesisir atau hilir.
Sebelum turun ke lokasi pengabdian, para relawan akan mengikuti sesi Bootcamp pada 24‑25 Oktober 2026.
Kegiatan ini menghadirkan pemateri antara lain Greenpeace dan CELIOS guna memperkuat kemampuan analisis serta menyiapkan instrumen pemberdayaan yang aplikatif di lapangan.
Fakta Lapangan dan Paradoks di Desa Marayoka
Dari pemetaan awal yang dilakukan pada 14 Oktober lalu melalui wawancara bersama Kepala Desa Marayoka serta dua Kepala Dusun setempat, terungkap sejumlah paradoks ekonomi dan tantangan lingkungan yang menghambat kemajuan desa tersebut.
Di sektor pertanian, Desa Marayoka memiliki potensi besar komoditas sukun yang dapat diolah menjadi produk bernilai jual tinggi seperti tepung sukun.Namun, potensi ini terhambat oleh minimnya literasi pengolahan bahan mentah, keterbatasan jaringan pemasaran, serta kurangnya akses modal.Bahkan pasar mingguan desa yang sudah ramai dikunjungi warga dari luar daerah belum memiliki komoditas unggulan yang menjadi ikon daya tarik utama.
Tantangan yang lebih dalam muncul di sektor pariwisata dan lingkungan.Destinasi wisata Bulu Pengka yang populer di kalangan pendaki masih terhambat oleh friksi antar‑unit registrasi, kurangnya komunikasi, dan tata kelola yang belum profesional, sehingga potensi Pendapatan Asli Desa (PADes) belum dapat diserap secara maksimal.Selain itu, teridentifikasi pula persoalan agraria terkait pemanfaatan kawasan hutan lindung oleh masyarakat yang berbenturan dengan rencana perluasan wilayah, serta belum adanya sistem pengelolaan sampah yang memadai.
Merumuskan Solusi Bersama Masyarakat
Menanggapi deretan persoalan tersebut, Tim Lontara Project HPMT menyiapkan serangkaian tindakan nyata di lapangan. Untuk menangani persoalan sengketa lahan, akan diadakan penyuluhan hukum melalui kolaborasi lintas sektor bersama LBH, BPN, Dinas Kehutanan, dan Pertanian. Sementara untuk membenahi destinasi wisata Bulu Pengka, tim akan memberikan pendampingan tata kelola meliputi penyusunan SOP pendakian, edukasi Sapta Pesona, serta pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
“Untuk hasil observasi awal ini, saya berharap menjadi salah satu acuan bagi narasumber untuk merumuskan materi yang linear dengan kondisi di lapangan,” ujar Aji Sukman, Project Controller Lontara Project HPMT.
Hasil keseluruhan penelitian dan pengabdian ini nantinya akan diolah menjadi dokumen proposal serta rekomendasi kebijakan, guna mendorong seluruh elemen pemerintah daerah untuk menyusun program yang tepat sasaran demi kemajuan Kabupaten Jeneponto.
Sumber:PB-HPMT








