Kisah Pilu Anak Yatim, Demi Biayai Adeknya Hardiman Putus Sekolah dan Jadi Buruh Bangunan

Jeneponto-Kompas24jam.id,  perkampungan sederhana di Kampung Beru, Dusun Tappalalo, Desa Bulusuka, Kecamatan Bontotangnga, Kabupaten Jeneponto, hiduplah dua anak yatim piatu, Hardiman Ponggi dan Jumhari.

Mereka berdua ini telah lama kehilangan orang tua sejak usia delapan tahun.Kini keduanya meninggalkan luka mendalam, namun juga mengukir kisah keteguhan hati yang mengharukan.

Hardiman yang kini berusia 13 tahun, dan adiknya Jumhari yang seusia, kini tak lagi pernah merasakan bangku sekolah dasar.Namun, impian mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP terbentur kerasnya realita kehidupan.

Dengan jiwa besar yang melebihi usianya, Hardiman memilih untuk mengorbankan pendidikannya demi masa depan sang adik. Ia rela meninggalkan bangku sekolah, berganti seragam putih abu-abu dengan baju kerja kasar, menjadi buruh bangunan—menerima panggilan kapan pun dan di mana pun demi memenuhi kebutuhan Jumhari.

Hari-harinya Hardiman dipenuhi dengan kerja keras. Tubuhnya yang masih kecil harus menanggung beban pekerjaan berat, terik matahari dan debu bangunan. Namun, lelahnya tak pernah terasa sia-sia ketika melihat Jumhari bersemangat berangkat ke sekolah. Sesekali, uluran tangan kakak tirinya membantu meringankan beban ekonomi keluarga kecil itu.

Jumhari, di tengah kesibukan sekolahnya, juga harus mengambil peran sebagai ibu rumah tangga. Ia memasak dan menyiapkan makanan untuk dirinya dan kakaknya.Meskipun masih belia, tanggung jawab yang dipikulnya begitu besar. Ia memahami pengorbanan kakaknya dan selalu berusaha untuk belajar dengan tekun, sebagai balasan atas kasih sayang dan perjuangan Hardiman.

Di balik kesederhanaan dan keterbatasannya, Hardiman menyimpan sebuah harapan: melanjutkan pendidikan.Mimpi itu terpendam, tertahan oleh kendala biaya. Namun, dengan semangatnya tak pernah padam.

“Insya Allah, suatu hari nanti kami kembali ke bangku sekolah, mengejar cita-cita yang sempat tertunda,” cerita dia.

Tentunya, Kisah Hardiman dan Jumhari adalah sebuah bukti nyata bahwa kasih sayang dan pengorbanan mampu mengatasi segala rintangan, sebuah cerminan keteguhan hati anak-anak Indonesia di tengah keterbatasan. Kisah mereka menjadi inspirasi, mengingatkan kita akan pentingnya kepedulian dan dukungan terhadap anak-anak yang kurang beruntung.

Laporan_Redaksi

Editor_KJ

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *